Tuesday, January 17, 2012

Payung Kebersamaan


Kembali masuk sekolah, waktunya berangkat ke sekolah. Hari pertama masuk sekolah setelah liburan tahun baru, sungguh menegangkan. Namun, semua itu lenyap bersama dinginnya udara pagi itu. Sekolah terasa seperti bukit yang sejuk. Sekolah dengan rasa rekreasi.


Diawali dengan upacara pagi, lalu masuk ke kelas, dan gue rindu akan kelas ini, terasa asing saat memasukinya kembali. Karena masih awal semester, hari ini tak ada kegiatan belajar mengajar. Seluruh murid di kelas saja, ada yang bercerita, bermain, bernafas, bergerak, serta menguap.

Waktu yang santai, tanpa terasa sudah pukul 12 siang, pintu gerbang dibuka dan murid berlarian keluar seperti katak lepas dari kandang.

???

Beberapa ayunan kaki, gue menjejakkan langkah terakhir di depan jalan raya. Teman gue ada di kiri, kanan serta di depan gue, namanya Sayu, Nasa, dan Mandiya. Mereka memelas minta kue ke gue, sementara gue ga bawa kue. *nama disamarkan

'Ini kan tahun baru, mana kue?' kata Sayu
'Bagi lah kue !!MASIH ADA kan?' Nasa teriak

Gue merasa seperti kena palak tapi dimintain kue.

'kue ya? kue apa?' gue agak sok bingung
'Pasti banyak ini kuenya..' Mandiya mulai memaksa 
'Tuh kuenya di rumah' jawab gue santai
'Bawa lah besok, kami mau..' Sayu makin ingin kue

Gue kebingungan sendiri diserbu 3 orang yang meminta kue, seandainya ada kue yang muncul dari tanah.
'Ya uda, kami ke RUMAH mu yaa ?' seru Nasa bersemangat
'Kalian yakin?' kata gue dengan muka bego
'Iya, naik nomor berapa?' tanya Mandiya
'P25 kalo ga P26 tapi nanti lanjut naik angkot lain lagi..' gue menjawab dengan yakin meski wajah bingung

Lewatlah angkot A97 . . .
'Naik ini aja, langsung sampai itu..' kata Nasa, ekspresinya menyakinkan..
'Oke, gue ga pernah tau ini angkot bisa sampai ke rumah gue, jadi kalau salah, yang disalahkan Nasa ya' gue berharap terbebas dari keluh kesah mereka nantinya

Ternyata benar dugaan gue, angkot tersebut tidak belok ke arah rumah gue. Nasa menyesal, Sayu dan Mandiya mengeluh, muka mereka kelihatan lelah. Sungguh kasihan mereka.

'Ayo, lanjut ... Ini kita menyeberang dulu lalu naik angkot lagi' gue tersenyum

Belum ada aba-aba maju atau mundur, Nasa berlari menyeberang pada saat lampu sedang hijau, dan dia menyeberang tepat di tengah persimpangan. Dengan terpaksa kami mengikutinya sambil ketakutan, mempercepat langkah kaki, membuka mulut AAAAHHH, berlari secepat angin, dengan tangan direntangkan. Kami hampir terbang seperti superwomen.

Mulut kami bertambah lebar beberapa cm, lega karena sampai juga dengan selamat ke seberang jalan. Langsung naik angkot lalu sebentar saja sudah tiba di depan komplek gue. Mulai gerimis, baju gue perlahan kebasahan air hujan. Baju jadi terasa lengket dengan kulit.

'Kita jalan kaki ke dalam?' kata Nasa
'Ya iya, buruan yuk nanti makin deres hujannya..' gue lari

Beberapa belokan, kami pun sampai di rumah gue. Lalu gue menyuruh mereka masuk dan mereka duduk di sofa ruang tamu. Setelah mencoba sedikit kue, mereka makan kacang.

Mama gue menawarkan mereka mau makan apa, agar mereka tidak merasa keroncongan. Mereka memilih bakso.

Awal ketertarikan datang ke sini adalah kue, tapi mereka lebih tertarik dengan hamster gue, mata Sayu bergerak 1 cm lebih maju, mulut terbuka, tangan mendekat ingin menyentuh salah satu hamster . . .
Namun, niat itu terhenti, Sayu terdiam.

'Eh , hamsternya gigit?'
'Kadang-kadang bisa gigit lho, hati-hati ya.. hehehe' gue cengar-cengir
'Ihhhh... ga jadi lah..' wajah mereka ketakutan
'Bisa kok kalau mau pegang, nih ada sarung tangan'
'Tidak.. nanti dia gigit tangan aku' kata Sayu

Pertemuan dengan hamster tidak berhasil harmonis, lanjutlah meeting di ruang tamu. Mereka membahas ongkos-ongkos yang tadi dibayarkan dahulu oleh Sayu. Ekspresi Sayu adalah gaya penagih hutang, dan kami orang yang berhutang, wajah Sayu nampak sangar, kami merasa lucu.

Mama gue kembali ke rumah membawa sekantong plastik asoy berisi beberapa plastik bening berisi bakso, beserta plastik kecil penuh sambel-sambel berwarna merah. Proses penuangan ke mangkuk dilakukan satu per satu. Sebuah mangkuk telah terisi bakso.

'Ma, yang ini bawa ke depan ya?'
'TUNGGUUUUUUU...'
'Kenapa ma?'
'sebentar.'

Gue mengucapkan kata tersebut dalam hati, SE--BEN--TAR.
'Ma, baksonya dibawa ke depan atau suruh mereka ambil sendiri?'

Mama hanya diam saja.
'Hmm, kayaknya suruh mereka ambil sendiri saja..' gue nanya dan jawab sendiri.

Kaki gue maju bergantian dan sampai di ruang tamu.
'Eh, itu baksonya sudah ada, ambil sendiri ya di dapur..'

Mereka berdiri dari sofa berniat mengambil bakso, tetapi Sayu tak beranjak dari posisinya. Mandiya adalah yang pertama pergi ke dapur dan berhasil kembali paling cepat dengan semangkuk bakso di atas telapak tangannya. Tiba-tiba Sayu mengambil mangkuk bakso milik Mandiya.
'Makasi ya..' Sayu tersenyum bahagia
'Oh, makanya ga ke dapur ya?' gue ikut senyum
'Memanglah kurang ajar Sayu ini..' Mandiya terlihat sedih

Kekecewaan tertempel di wajah Mandiya karena dia harus kembali mengunjungi dapur dan menjadi orang terakhir yang berhasil meletakkan mangkuk bakso di atas meja ruang tamu. Sial sekali Mandiya. Gue kembali ke dapur mengambil semangkuk sambel merah itu.
'Ini sambel, ada yang mau?'

Serentak mereka berebut sambel, kuah bakso mereka jadi seperti cat air warna merah. Nasa dan Mandiya sudah mulai memakan bakso, namun Sayu masih bereksperimen dengan sambel, dia menunggu warna merah yang tepat.
'Kenapa belum dimakan, Sayu?'
'Iya, nanti dimakan..'
'Masih bereksperimen ya?'
'Iya, aku bereksperimen lho, cantik kan warna kuah ku..' Sayu memamerkan hasil karyanya.

Pandangan gue beralih ke Nasa, wajahnya memerah, keringat menetes, mata berair, hidung membesar .. lho ?
'Kepedesan, sa ?'
'Iya.. tapi enak..' mengambil lagi sesendok sambel, masukkan ke mangkuk bakso
'Tapi katanya kepedesan.. kok malah nambah sambel lagi?' gue kebingungan...
'Itulah supaya makin enak'

Gue makin ga mengerti dengan teori pedas di sini.. , sepertinya teori tersebut telah berubah untuk Nasa : saat kamu kepedasan , tambahlah lagi beberapa sendok sambel ke dalam makanan kamu.

***

Rasa senang mencoba sesuatu, virus inilah yang menyerang temen-temen gue. Nasa dengan sambel yang ditambah-tambah terus, Sayu yang mengambil sambel sedikit demi sedikit lalu diaduk-aduk. Apa yang terjadi dengan Mandiya ?
'Wah, emang enak ya?'
'Iya, cobain deh.. enak lho bakso ditaruh kacang..'
'hehehe, ga deh.. '

Mendengar promosi dari Mandiya, temen-temen yang lain jadi ikutan makan bakso pakai kacang. Hasilnya toples kacang gue tinggal sedikit isinya. Mereka benar-benar pecinta kacang, besok-besok kalau mereka ultah, kasih kado sebutir kacang aja kali ya .. IDE CEMERLANG..

Di antara para pecinta kacang dan ilmuwan sambel ini, gue berasa paling cupu. Kenapa? Mereka terus-terusan menghina dan mengejek gue karena kuah bakso gue paling bening, suci dan tak ternoda sambel dan kacang. Gue bukan tipe orang yang suka makan bakso pakai sambel, karena sudah pernah gue coba makan bakso pakai sambel itu ga enak ! Rasanya pedas-pedas gitu aja, malah ga kerasa makan bakso, jadi kayak makan kuah sambel.. HUEEEKKK

BREESSSSSSSSSS... DRESSSSSSSS.. SREESSSSSSSSS.. Turun hujan lebat yang emang wajar, karena dari tadi juga uda gerimis-gerimis rintik.
'Wah hujan nih..' ::> padahal dalam hati : haha, kalian ga bisa pulang..
'Iya, hujan .. gimana nih?' kata Mandiya panik
'Haduuh, rumah aku jauh lagi?' wajah Nasa sedih
'Aku ga bisa pulang' kata Sayu persis kayak iklan di televisi

Tiba-tiba muncul tanda seru di atas kepala Sayu, tanda dia baru saja teringat sesuatu.
'Eh.. Nasa..'
'Kenapa?'
'Inget ga tadi Nasa minjem hp kawan di sekolah untuk sms mama mu?'
'Oh, iya.. haduu mati aku !!!' Nasa panik luar biasa
'Ada apa?' gue berasa bego..
'Ini lho si Nasa, ..'
'Kenapa dia??'
'Dia tadi sms mamanya suruh jemput di persimpangan deket rumahnya'
'Kapan dia sms?? uda dari tadi???' gue ikutan panik
'Iya, uda 1 jam'an lebih lah'
'Wah, bilanglah ke mamanya, kasian lho tar mama mu, Nasa..'

Solusi segera pun diluncurkan, Nasa menelpon mamanya dengan telepon di rumah gue, mamanya marah karena uda nunggu sangat lama, Nasa disuruh pulang sendiri.
'Aku harus pulang sekarang' kata Nasa
'Aku ikut !! kita kan satu arah' Mandiya lari mengejar Nasa
'Kalian pulang, aku juga ikut pulang' kata Sayu
'Da... , kalian pulang, aku di sini' gue cengar-cengir
'TIDAAAAKKKK !!!!' teriak mereka serentak

Ternyata mereka tidak tahu arah jalan ke depan komplek, gue menyarankan mereka untuk membawa peta, gue mulai menggambar peta.
'JANGAAAAANNNN !!' kata mereka
'Oh, ga perlu ya? Yaudah kalian pulanglah'
'Kau lah anterin ke depan komplek, kami ga tau jalan' Nasa memelas..

Gue bilang ke mama kalau gue mau mengantarkan temen-temen ke depan komplek dulu dan mama memberikan payung ke mereka beserta payung untuk gue. Kejadian berikutnya makin parah, mereka jalan duluan dengan jalan yang dipilih secara asal, gue berniat menakut-nakuti mereka.
'Nanti kalau jalannya asal terus tersesat, aku ga tanggung jawab ya'
'Ini lewat mana lagi? kiri atau kanan?'
'Lewat mana ya? Aku lupa.. kalian sih pilih jalan asal-asal'

Pura-pura amnesia adalah cara yang tepat saat situasi di sekeliling kamu sedang berbahaya. Mereka melanjutkan memilih jalan dengan feeling. Untung saja, jalan di komplek gue itu sangat strategis dan bersahabat dengan rumah gue. Mau lewat mana aja, bisa-bisa aja sih, tapi kalau untuk mereka tetap gue arahkan ke jalan yang benar, karena mereka memilih jalan terlalu asal-asalan.

Gue sempat memotret peristiwa itu dan gue melihat dari jauh, gue berdoa semoga mereka sampai di rumah mereka masing-masing dengan selamat. Beberapa menit terlewati, gue berdiri membawa payung di bawah hujan. Akhirnya gue pun pulang kembali ke rumah, setelah payung mereka tak terlihat lagi, dan mereka sudah jauh berjalan ke depan komplek.

Potret payung kebersamaan yang merekam persahabatan di tengah hujan memiliki makna yang berarti. Pesan moral : Sahabat dapat kamu temukan di mana saja, tetapi sulit untuk menemukan sahabat di tengah hujan, terutama apabila hujan tersebut hujan air mata.

Semoga payung kebersamaan digunakan juga untuk melindungi teman di kala sedih, saat tangis jatuh di pipi kawan mu, kamu datang membawa payung kebersamaan.


















No comments:

Post a Comment